Penanggulangan bencana Typhoon di Jepang
- Mensa Toegiono
- Feb 25, 2025
- 3 min read
Bencana alam memang tidak bisa dihindari, apalagi melawannya. Tapi minimum berusaha untuk antisipasi dan memperkecil korban harta dan korban jiwa.Dari tanggal 11 October 2019 malam Jepang kedatangan typhoon "Hagabis" yang memiliki kekuatan sangat besar. Melintas kepulauan Jepang dengan membawa curah hujan yang begitu besar dan angin yang begitu besar.Setiap tahun Jepang akan menghadapi musim typhoon, dan typhoon kali ini adalah yang ke 19 kali ditahun 2019. Oleh karena itu di Jepang sendiri diberi code Typhoon 19.
Tapi typhoon nomer 19 ini memiliki kekuatan yg luar biasa dibanding typhoon sebelum nya selama ini. Kalau pun mau dibandingkan, setara dengan typhoon "Vera" atau lebih dikenal dengan nama Isewan typhoon pada tahun 1959 yang telah menelan korban jiwa hampir 5000 dan kerusakan daerah yang besar.
Walaupun typhoon 19 ini pada akhirnya tetap meninggalkan jejaknya dengan jatuhnya korban jiwa, harta, dan banjir dibeberapa tempat, terutama khususnya di wilayah Jepang utara, tapi penanganan musibah typhoon 19 ini bisa kita contoh.Penanganan dengan tekhnology yang cukup canggih dan kordinasi berbagai instansi pemerintah, kepolisian, tentara dan masyarakat yang saling mendukung, maka korban jiwa bisa ditekan.
Sekitar 10 hari sebelum typhoon 19 ini mendarat di kepulauan Jepang, satelit cuaca Jepang telah mendeteksi terbentuknya typhoon di laut pacific, dan sekaligus sudah dapat di deteksi kekuatan dan besarnya typhoon ini. BMKG Jepang segera menganalisa lintas typhoon ini yang diprediksi akan melintas pulau utama Jepang, Honshu. Bahkan diprediksi akan melintas di ibu kota Jepang, Tokyo.

Pemerintah Jepang segera mengumumkan adanya bahaya typhoon ini kepada masyarakat. Instansi pemerintah Jepang yang terkait pun segera menyiapkan diri untuk menghadadapi typhoon yang akan segera tiba.
Berita mengenai gerakan typhoon ini setiap hari tidak ada henti hentinya dilaporkan melalui media elektronik TV, dan apa saja yang harus dipersiapkan masyarakat untuk menghadapi typhoon ini.Misalnya menyiapkan makanan darurat, senter, air minum, radio, dll.
Demikian juga langkah langkah bagaimana dan kemana untuk mengungsi. Dalam hal ini masyarakat sudah diarahkan untuk mendengarkan informasi dari pemerintah daerah sestempat.
Saat saat typhoon 19 mulai mendarat di kepulauan Jepang, media TV, Internet, dan handphone, tidak henti hentinya terus memberikan informasi typhoon. Pemberitaan live di TV dari BMKG Jepang, Kementrian transportasi. Khususnya wilayah yang segera akan dilintasi typhoon, terus dipantau, dan diberikan level status emergency nya. Tempat tempat pengungsian sementara pun dibuka di beberapa tempat untuk menampung mereka yang memerlukannya. Informasi ini disiarkan melalui TV dan juga emergency alert system melalui handphone messaging dengan disertai bunyi yang keras. Bagi para manula dianjurkan lebih dini untuk mengungsi karena adanya keterbatasan mereka bergerak.
Tokyo sebagai ibukota Jepang pun pada akhirnya masuk dalam alert level 5, yaitu alert tertinggi dan yang selama ini belum pernah terjadi untuk kota Tokyo.

Bahaya akan meluapnya sungai sungai utama. Bagi yang tinggal di dekat sungai sungai itu diminta segera mengungsi dan menjauh dari lokasi sungai.
Pemerintah daerah selevel kelurahan, dengan speaker speaker raksasa yang berada di berbagai tower di wilayahnya mengumumkan informasi kondisi keadaan.
Dinas kepolisian dan mobil pemadam kebakaran tetap melakukan patroli untuk memonitor keadaan banjir.
Demikian derasnya curah hujan dan kencangnya angin yang dibawa typhoon 19 ini, membuat beberapa dam di wilayah Kanto mencapai batas maksimum untuk penampungan airnya, sehingga diumumkan akan segera dibuka pintu air di 3 dam. Berarti ini akan menambah air yang akan mengalir ke sungai sungai utama di wilayah Kanto, termasuk sungai besar yang melewati kota Tokyo seperti sungai Tamagawa, Arakawa, dan Edogawa.Tidah ketinggalan informasi transportasi umum. Kereta. pesawat dam informasi traffic jalan, untuk mengantisipasi tidak terjebaknya masyarakat dalam kondisi dimana typhoon yang sedang melintas.
Pada akhirnya typhoon 19 ini melintas melewati kota Tokyo dan sekitarnya dengan sedikit meninggalkan musibah.

Akan tetapi typhoon 19 ini menimbulkan banyak kerusakan dan banjir di Jepang Utara, seperti wilayah Nagano, Iwate, dan sekitarnya. Wilayah ini lebih banyak daerah pertanian dan perkebunan. Ada beberapa tanggul sungai yang jebol hingga membanjiri wilayah wilayah tertentu.
Rescue team dari berbagai instansi pemerintah dikerahkan dari darat maupun udara.
Sampai dengan tulisan ini diturunkan, menurut berita bahwa korban jiwa dalam typhoon 19 ini ada 20 jiwa.
Kerusakan karena banjir di Jepang utara cukup banyak dan masih dalam penanganan.
Melihat cara jepang menangani bencana ini, terlihat bagaimana pentingnya technology, informasi dan kordinasi banyak pihak untuk menanggulangi bencana ini dengan cepat dan tepat.
Mungkin kita patut mencontoh cara cara penanganan Jepang ini, mengingat Indonesia pun rawan dengan berbagai bencana seperti gempa, banjir, gunung berapi, dll.










Comments