Mengenang Tohoku Earthquake 2011
- Mensa Toegiono
- Feb 25, 2025
- 5 min read
Updated: Mar 11, 2025
Hari ini 14 tahun yang lalu, tepatnya 11 Maret 2025 adalah peringatan gempa besar Tohoku yang sampi mengguncang sebesar 9M dan terasa sampai Tokyo sebesar 6M.
Sangat menakutkan dan pengalaman gempa terbesar yang pernah saya alami.
Disusul dengan gelombang tsunami mencapai 15 meter didaerah Tohoku yang mengakibatkan bencana PLTN terbesar sepanjang masa di Jepang dan nomer 2 di dunia setelah Chernobyl di Rusia.
PLTN Fukushima sampai saat ini masih terus dilakukan recovery secara perlahan lahan.
Pada tanggal 11 Maret 2011, siang itu hari Jumat, saya berada di cafe di salah satu mall di kawasan Kawasaki.
Berawal dari goncangan ringan yang saya pikir hanya sekedar gempa kecil biasa, dan saya meneruskan kerjaan di notebook.
Tapi gempa tidak mereda bahkan terus menguat. Lampu diatas meja semakin mengayun ngayun kencang. Firasat tidak enak mulai terasa. Segera saya menutup notebook dan lansung keluar cafe.
Baru beberapa langkah dari meja, lampu gantung yg diatas meja saya jatuh ke meja. Ini sudah menandakan awal bahaya.
Berusaha keluar bangunan mall, tapi lari saya tidak stabil karena goncangan. Kaca2 etalase terlihat melengkung lengkung yang bisa pecah sewaktu waktu.
Saya behasil keluar dari bangunan dan berada di semacam teras gedung lantai tiga. Disana ada kolam kecil yang airnya sudah tumpah tumpah seperti ember yang kita goyangkan.
Saya melihat gedung mall bergerak meliuk liuk seakan akan segera rubuh. Dari lantai tiga terlihat di lantai dasar orang berhampuran keluar gedung dengan panik.
Saya sudah merasa mungkin saya tidak tertolong lagi.

Tidak lama setelah itu, gempa berhenti dan melalui speaker besar agar kita harus pindah bergerak ke lapangan parkir yang lebih luas diseberang gedung.
Kita semua bergerak lari dengan tuntunan suara petunjuk dari speaker. Kita harus segera pindah karena pastinya akan ada gempa susulan.
Ketika sampai di lapangan parkir terlihat dikejauhan asap hitam mengepul dari arah Haneda Airport. Sepertinya tangki bahan bakar terbakar. Di udara beberapa pesawat berputar putar tidak bisa mendarat. Disitu saya sedikit menenangkan hati dan teringat anak saya yg saat itu berada di kampus. Saya coba menghubunginya melalui HP, tapi tidak bisa dihubungi. Sepertinya sambungan telepon melebihi kapasitas dan down. Tapi saya perhatikan bahwa signal Internet ada. Kemudian saya coba menghubungi anak saya, dan diangkat. Saya tanyakan kondisi kampusnya dan sepertinya aman, karena itu gedung baru dan ada bungkernya juga.
Saya pesan agar dia tidak meninggalkan kampus untuk pulang, karena tidak ada kereta yg jalan dan udara masih dingin. Saya minta nunggu saja di kampus karena saya akan menyusul ke kampus.
Tidak lama setelah itu kembali gempa susulan yg sama besarnya dari yg pertama. Saya hanya bisa diam saja di plataran parkir.
Setelah gempa berhenti, saya memutuskan untuk segera ke kampus anak sebelum kembali gempa susulan.

Jarak dari lokasi saya ke kampus sebenarnya hanya 15 menit naik kereta, tapi karena tidak ada kereta yg jalan, maka saya berjalan kaki diudara yg masih dingin itu. Perjalanan sampai kampus memakan waktu 2 jam an dan selama perjalanan penuh manusia yg berjalan juga.
Mau mampir ke mini market, tapi sudah tidak ada yg jual makanan maupun minuman, sudah dibeli langsung oleh orang orang. Saya hanya berhasil beli cookies saja.
Sampai kampus, segera saya disambut dosen yg saya kenal dan dipersilahkan duduk dan diberi ocha hangat, karena mereka tau saya kedinginan.
Anak saya tidak terlihat dan menurut dosennya sedang mencari makanan bersama teman temannya.
Saya diantar ke ruangan untuk mengungsi sementara dan disediakan selimut Emergency. Tidak lama anak saya kembali dan tersenyum senyum. Baru saya merasa lega disana. Malam itu kami menginap di kampus, karena heater ada, juga lebih aman daripada kembali ke apartment.
Malam itu hampir setiap jam terjadi gempa susulan 1-2 kali. Di kantin kampus terlihat banyak mahasiswa dan para dosen yg juga tidak bisa pulang dan bermalam di kampus. Di beberapa layar TV terlihat berita2 gempa dan Tsunami dasyat di daerah Tohoku.
Mungkin bagi saya dan anak saya menjadi pengalaman hidup yg tidak terlupakan.
Berikut salin tulisan anak saya (Dori) di sosial media ketika kejadian gempabumi itu.
Kejadian pas tanggal 11 maret 2011 hari jumat, jadi awalnya itu gue lagi dikelas bahasa jepang, kita lagi ngebahas pelajaran yg bakal dijadiin ujian hari seninnya. terus temen gue cewe orang korea bilang "gempa?" terus sekelas diem. awalnya pas goyang pelan kita malah ketawa semacem "wow", "kyaa kyaa", "ahahahaha wah", "goyaaang" girang gt. terus lama2 kok ngerasa aneh. Emang gempanya jadi melemah bentar, taunya setelah itu gempanya makin lama makin besar terus lamaaa bgt ngga berenti.
Semua anak mulai panik, sensei juga panik, temen sebangku gue yg orang cina udah mulai ngaung ngaung ketakutan sambil nyengkrem lengan tangan gue sambil setengah nangis (sumpah kenceng bgt sampe menyentuh hati cengkremannya). Trs gue? bingung mesti ngapain dengan tangan sebelah dicengkrem si cina, gue cuma bisa update twitter "YAALLAH GEMPA GEDE BGT &#%$&@%#&@" yg gue jg lupa apa, kl penasaran silahkan buka twitter saya @andori cari aja sampe mampus kebawah2. Oya lanjut, setelah itu kepala sekolah ke kelas trs suruh semua bawa barang masing2 terus kabur ke taman depan kampus (sekolah bhs jepang & kampus gabung gt tmpnya). Sampe tengah taman masih juga gempa2 susulan yg lumayan gede, gue sama sensei2 dan anak2 cuma bisa jongkok, trs sempet gerimis.
Omg lg suasana tegang panik gitu, pake gerimis segala, langit jadi gelap bgt segala pula kita semua makin takut. Kita semua ngerasa kayak ada bau gosong, ternyata setelah gempa itu byk kebakaran dmn2, pesawat byk terbang diatas muter2 doang ngga bisa mendarat karena gempa. Semua koneksi mati gabisa nelfon siapa2, gue panik ngga bisa hubungin bokap gue sama sekali, tp untungnya jaringan internet masih jalan jd bisa skype sama bokap, udah gitu jalur kereta semuanya bener2 berenti yg artinya GUE NGGA BISA PULANG. trs gue nyalain tv yg ada di hp disney gue (bersyukur soalnya hp yg 1 lg ngga bisa ntn), TERNYATA GEMPANYA 9 SR! Semua chanel isinya berita gempa, kebakaran, retak, rumah pada ancur, trs dipasang WARNING TSUNAMI. sumpah ya gue kira pas itu gue bakal mati mana lagi WINTER. Langsung flashback semua dosa hidup gue dlm 3 detik. diwarning tv saat itu diperkirakan tsunami 6 meter akan datang. Padahal setelah kejadian tsunami tingginya sampe 23 meter lebih parah drpd perkiraan ckck. tp alhamdulillah daerah gue tokyo ngga kena tsunami seenggaknya.
Akhirnya gue malem itu sama anak2 nginep dikampus soalnya kereta berenti semua. Yg gue salut dari jepang tuh salah satunya mereka super siap menghadapi situasi darurat kyk gini. Disekolah disiapin selimut tebel, peralatan2 darurat deh. bokap jalan kaki kearah kampus gue makan waktu 2,5 jam. Makanan disevel abis semua ngga ngerti lg. Besokannya kereta udh jalan walau blm semua line. Sampe rmh untung cmn beberapa rak doang geser. Setelah hari itu tiap hari tetep gempa susulan tiap jam, hidup gue bener2 ngga tenang dan trauma sama alarm gempa ahahaha. Trs akhirnya gue balik ke indonesia dulu liburan sekalian ngungsi. Bokap tetep dijepang & tiap hari pake masker cegah radiasi
*Semoga kejadian malapetaka ini tidak terulang kembali








Comments