Kehidupan WNI di Kota Oarai prefecture Ibaraki
- Mensa Toegiono
- Feb 25, 2025
- 7 min read
"Masih ada lebih dari 1.000 orang Indonesia yang tinggal secara ilegal."
Alasan yang tidak diketahui mengapa overstay sangat umum di kota imigran terbesar di Kanto utara
Kota Oarai, Prefektur Ibaraki, adalah kota kecil dengan populasi sekitar 15.000 orang yang terletak di pantai Pasifik Kanto utara. Kota ini merupakan rumah bagi banyak orang Indonesia dan merupakan industri yang berkembang pesat untuk pertanian, perikanan, dan pengolahan makanan laut. Mereka mencakup sekitar separuh dari penduduk asing di kota tersebut, dan kini berperan penting bagi kota tersebut sebagai tulang punggung industri lokal.
Di sisi lain, Kota Oarai telah lama dirundung masalah visa yang melebihi batas waktu (tinggal overstay). Pada bulan Juli tahun lalu, sebuah insiden terjadi di mana 29 imigran ilegal Indonesia ditangkap di sebuah gedung apartemen di kota yang sama. Seorang reporter Gendai Business mendatangi lokasi tersebut untuk mencari tahu alasan di balik hal ini.
Alasan Meningkatnya Jumlah Penduduk Indonesia
"Dulu, semua perusahaan pengolahan makanan laut mempekerjakan orang yang sudah melewati batas waktu (Overstay), dan itu adalah kesepakatan diam-diam.
Saya berpikir, 'Ini buruk,' tetapi karena orang Jepang tidak ada yang mau melakukannya pekerjaan tersebut, jadi kami tidak punya pilihan selain menggunakan orang Indonesia."
Saat angin laut yang dingin bertiup, seorang pria yang telah menjalankan perusahaan pengolahan makanan laut di Kota Oarai, Prefektur Ibaraki selama bertahun-tahun membuka diri tentang sisi gelap kota tersebut.
Kota Oarai yang terletak di pesisir Pasifik dikenal memiliki populasi penduduk Indonesia yang besar. Menurut Badan Layanan Imigrasi, dari 1.047 penduduk asing, 526 adalah warga negara Indonesia, yang mencakup sekitar separuh dari total penduduk. Terkait dengan alasan peningkatan jumlah tersebut, Hiroyasu Sakamoto (75 tahun), perwakilan dari organisasi nirlaba “Ibaraki Indonesia Association”, menyampaikan hal berikut:

"Para nelayan Kota Oarai biasa melakukan perjalanan memancing di perairan dalam hingga ke pesisir Indonesia untuk menangkap ikan tuna dan bonito. Sekitar 35 tahun yang lalu, salah seorang nelayan menikahi seorang wanita lokal dan kembali ke Oarai bersamanya. Istrinya berkata, 'Di sini banyak pekerjaan, jadi datanglah ke sini,' dan ia mengundang semua orang, mulai dari saudara hingga teman-teman lokal, untuk datang. Akibatnya, jumlah penduduk Indonesia ilegal di daerah itu meningkat drastis.
Saat itu, imigrasi masih longgar dan tidak ada tindakan keras terhadap imigran ilegal, sehingga pekerjaan yang tidak disukai karena dianggap sebagai tempat kerja 3K (keras, kotor, berbahaya) oleh pemuda Jepang, mulai dikerjakan oleh para illegal Indonesia, di bidang pertanian dan industry pengolahan makanan laut. Dalam 10 tahun pertama jumlah penduduk Indonesia ilegal bertambah hingga hampir 2.000 orang."
Sementara itu, setelah adanya revisi Undang-Undang Imigrasi dan Pengungsi pada tahun 1990, pemerintah mulai menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru. Sekarang setelah orang Jepang keturunan Indonesia (Nikei) diizinkan bekerja, pemda kota Oarai merencanakan menarik dan mendatangkan orang Jepang generasi kedua yang tinggal di Indonesia ke Kota Oarai sebagai tulang punggung industri lokal.
Walikota kemudian meminta Sakamoto san, yang disebutkan di atas, untuk "mencari beberapa orang Jepang turunan di daerah Indonesia tersebut."
"Fakta yang ada, di wilayah Manado, banyak nelayan yang meninggalkan Prefektur Okinawa untuk bekerja di zaman sebelum perang dunia, dan bekas tantara Jepang yang menetap di wilayah Menado ini dan menikahi warga local dan memiliki keturunan. Namun, setelah perang dunia, ayah mereka yang berkebangsaan Jepang dipulangkan secara paksa, dan banyak dari anak anaknya ini hidup dalam kemiskinan ekstrem sejak usia muda tanpa mengenyam pendidikan yang layak. Itulah sebabnya semua orang Nikkei (turunan Jepang) yang saya temui mengatakan kepada saya bahwa mereka ingin pergi ke Jepang.”
“Namun saya tanya lagi, ‘Ayah kalian dari mana?'’
Ketika ditanya, "Di mana kampung halamanmu?" satu-satunya jawaban yang bisa mereka berikan adalah "Okinawa." Untuk memperoleh visa kerja di Jepang, perlu dibuktikan secara objektif bahwa mereka adalah keturunan Jepang, jadi saya pergi ke Pulau Izena dan Pulau Iheya (keduanya di Prefektur Okinawa), tempat asal banyak dari mereka, untuk mewawancarai orang-orang dan memperoleh salinan semacam daftar keluarga mereka.
Masih ada lebih dari 1.000 orang yang melebihi batas waktu visanya
Upaya ini membuahkan hasil, dan pada tahun 1997 keluarga Jepang-Indonesia pertama pindah ke Kota Oarai. Selama empat tahun berikutnya, sekitar 160 orang Jepang berimigrasi dan menikah dengan orang Indonesia dari kampung halaman yang sama. Saat ini, banyak warga Indonesia Jepang generasi ketiga dan keempat yang bekerja di bidang pertanian dan pengolahan makanan laut, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota tersebut.
Akan tetapi, masalah tinggal melebihi batas waktu (penduduk overstay) masih terus terjadi di Kota Oarai. Pada bulan Juli tahun lalu (2024), sebuah insiden terjadi di mana 29 imigran ilegal Indonesia ditangkap di sebuah gedung apartemen di kota yang sama. Menurut Badan Layanan Imigrasi, jumlah orang asing yang bekerja secara ilegal di Prefektur Ibaraki pada tahun 2023 adalah 2.748, yang tertinggi di negara ini. Polisi dan pemerintah menyadari situasi ini, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Sakamoto juga dikatakan sedang bingung dengan masalah ini.
"Saat ini, ada lebih dari 500 warga negara Indonesia yang tinggal di Kota Oarai. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 orang adalah keturunan Jepang (Nikei), dan sisanya adalah pekerja magang (Ginou Jishusei) atau pekerja berketerampilan khusus (Tokutei Ginou atau TG)), tetapi dikatakan bahwa ada lebih dari 1.000 warga negara Indonesia yang tinggal melebihi batas visa mereka. Ada banyak kasus Jishusei perempuan yang bekerja dan hamil anak-anak mereka, membuat majikan mereka kesulitan untuk mengatasi situasi tersebut.
Tentu saja, kami melaporkan siapa saja yang tampaknya melebihi batas waktu visanya (overstay), tetapi di Indonesia, jika ada yang mengajukan permohonan terlebih dahulu, maka dapat diberikan paspor elektronik (paspor IC) dan memasuki Jepang tanpa visa. Jadi kenyataannya adalah kita tidak dapat berbuat apa-apa dengan kekuatan kita sendiri."
(*kemungkinan yang dimaksud reporter ini adalah WNI yang datang dengan kunjungan wisata dengan visa waiver)
“Bagaimana realitanya? Pada suatu hari di bulan Januari, saat saya tiba di Kota Oarai, Prefektur Ibaraki, yang menghadap Samudra Pasifik, area di sekitar Pelabuhan Nelayan Oarai, dipenuhi restoran dan kafe yang ditujukan untuk wisatawan, dipenuhi orang.
Sementara itu, pusat kota tampak sepi. Distrik perbelanjaan ini hanya memiliki beberapa toko pangsit dan toko mainan yang telah lama berdiri, serta beberapa izakaya dan kedai makanan ringan, dan anak muda hampir tidak terlihat di sana pada siang hari. Seorang pria Jepang berusia 40-an yang tinggal di Kota Oarai berkata, "Kota Oarai dulunya terkenal dengan geng motornya, tetapi sekarang bahkan tidak ada orang Yankee di sana."
Saat ini, kota Oarai menjadi rumah bagi sekitar 14 atau 15 perusahaan pengolahan makanan laut dan dikenal sebagai salah satu daerah produksi ikan teri (shirasu) terkemuka di Jepang. Shirasu merupakan hasil tangkapan ikan terbanyak di Pelabuhan Nelayan Oarai, dan disebut shirasu musim semi dari bulan April hingga Juli dan shirasu musim gugur dari bulan Agustus hingga November. Menurut pejabat pelabuhan perikanan, penangkapan ikan dengan kapal pukat merupakan metode umum yang digunakan saat ini, dengan hasil tangkapan utama berupa ikan Sebelah (Flounder), sea bass, dan ikan Kurisi.
Ketika kami bertanya kepada seorang pria yang telah menjalankan perusahaan pengolahan makanan laut di sini selama bertahun-tahun untuk berbicara tentang situasi terkini di kota tersebut, ia dengan tegas membantah pernyataan di atas, katanya, "Tidak ada yang mempekerjakan orang yang melebihi batas tinggal saat ini."
"Serikat pekerja kini telah mengeluarkan pemberitahuan bahwa 'pekerja ilegal' dilarang, dan kami juga telah membahas untuk tidak mempekerjakan anak-anak tersebut. Namun, kenyataannya adalah sulitnya menemukan karyawan Jepang. Untuk mengatasinya, kami menggunakan Program Pelatihan Magang Teknis (Jishusei) untuk mempekerjakan orang Indonesia berusia 20-an dan 30-an.
Mereka sekarang menjadi mayoritas karyawan kami, tetapi saya kira seberapa baik mereka melakukan pekerjaan mereka bergantung pada masing-masing individu. Sama seperti orang Jepang, ada anak yang bekerja secara efisien, ada pula yang berjalan dengan kecepatan mereka sendiri. "Di setiap negara, itu sama saja."
Kepala Koperasi Industri Pengolahan Perikanan Kota Oarai juga menanggapi, "Tidak benar jika kami mempekerjakan orang asing, termasuk Indonesia, secara ilegal."
"Semua bisnis mempekerjakan pekerja magang teknis (Jishusei) dan pekerja terampil khusus (TG) melalui organisasi pengawasan. Pada bulan Oktober tahun lalu, kami meminta setiap bisnis untuk mengonfirmasi bahwa mereka tidak mempekerjakan imigran ilegal, dan meminta mereka untuk menyerahkan janji. Asosiasi kami bermaksud untuk terus meningkatkan kesadaran secara menyeluruh."
Perasaan sebenarnya dari para Jishusei yang tinggal di Kota Oarai
Ninbenichi, sebuah perusahaan pengolahan makanan laut yang didirikan di kota tersebut lebih dari 60 tahun yang lalu, adalah salah satu perusahaan yang mempekerjakan Jishusei Indonesia. Lima pria dan wanita Indonesia tinggal bersama di sebuah asrama di lantai dua kantor tersebut.
Pekerjaan sehari-hari mereka di pabrik melibatkan pemilahan shirasu untuk memeriksa sampah dan mengemasnya ke dalam paket. Saat sedang sibuk, masing-masing orang ternyata menangani hingga 40-kilogram shirasu dalam sehari, dan tak jarang mereka pun mengalami nyeri otot.
Grandy (28 tahun, laki-laki, Jishusei), yang telah berada di Jepang selama empat tahun, tertawa dan berkata, "Tidak ada AC, jadi saya butuh kompor penghangat di musim dingin. Di musim panas, tidak ada yang bisa saya lakukan, jadi saya pergi ke ruang tamu untuk menyejukkan diri. Saya ingin segera mulai hidup sendiri."
"Tidak ada pekerjaan di Indonesia, jadi saya datang ke Jepang untuk mencari uang. Gaji saya sekitar 120.000 yen (12 juta rupiah), setengahnya saya kirim ke keluarga, karena orang Indonesia menghargai keluarga. Jadi saya mencoba menabung semaksimal mungkin, dan hanya sesekali makan di Coco's atau kedai ramen.
Di hari libur, saya sering bermain game di HP, dan favorit saya adalah game bernama "Mobile Legends."
"Saya bisa menghasilkan banyak uang di Oarai sini dan keluarga saya bahagia, jadi saya ingin tinggal di Oarai selamanya."
Fernita (33 tahun, perempuan, TG), yang tinggal di asrama yang sama, juga mengatakan kepada kami, "Saya suka pekerjaan saya karena saya mendapat gaji yang besar."
"Di Indonesia, saya bekerja sebagai arsitek, tetapi gaji saya sekitar 30.000 yen (3 juta rupiah). Sekarang, saya memperoleh sekitar empat kali lipat dari jumlah tersebut. Saya mengirimkan setengah gaji saya untuk keluarga, dan dengan sisa uang tersebut, saya berbelanja di minimarket dan sesekali pergi ke kota Mito untuk bersenang-senang (rekreasi). Jika saya kembali ke Indonesia, gaji saya akan turun, jadi saya ingin tinggal di Jepang selama mungkin."
Ada tujuh gereja Kristen di kota itu
Sekitar 80% penduduk Indonesia beragama Islam. Namun, karena alasan historis, banyak orang Manado yang tinggal di kota Oarai beragama Kristen, dan ada tujuh gereja Kristen di kota tersebut. Yang terbesar di antaranya adalah Gereja Kristen Nazaret, yang dibangun delapan tahun lalu di sebuah gudang yang telah direnovasi.
Salmon (56), salah seorang staf di fasilitas tersebut, mengatakan, "Tempat ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga tempat bagi kami orang Indonesia untuk berinteraksi. Kami saling memberi nasihat dan melakukan perjalanan bersama. Cukup banyak orang Indonesia yang bertemu dan menikah di sini, dan pada Natal tahun lalu sekitar 200 orang menghadiri kebaktian."
Pada hari wartawan berkunjung, sekitar 100 orang warga Indonesia menghadiri kebaktian, dan himne terdengar bergema di seluruh area. Salah satunya, Mariko (18 tahun), adalah warga Indonesia Jepang generasi keempat. "Saya lahir dan besar di Kota Oarai, dan telah menghadiri gereja secara rutin sejak saya masih kecil," katanya. Mariko akan pindah ke Tokyo pada musim semi ini, baginya ini merupakan langkah besar untuk mencapai Impian dimasa depan.
"Saya orang Indonesia, tetapi saya lahir dan dibesarkan di Jepang, jadi saya merasakan kehidupan di negara yang katanya maju. Namun, setiap kali saya pergi ke Indonesia untuk mengunjungi kakek-nenek saya, saya melihat kenyataan pahit; bahkan dengan tingkat pendidikan yang tinggi, orang-orang hanya bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Saat itulah saya merasa perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi situasi ini, dan saya mulai bercita-cita ingin menjadi pekerja konsultan International Development.
Dibandingkan dengan Jepang, negara berkembang seperti Indonesia kekurangan banyak hal. Saya ingin bekerja pada posisi di mana saya dapat menganalisis informasi tersebut dan melihat data untuk memikirkan cara memperbaikinya. "Untuk tujuan itu, saya memutuskan untuk mempelajari bidang IT dan berkuliah di universitas di Tokyo."
Sumber berita:









Comments